Skip to content

Kuiper Belt Objects

Maret 27, 2009

kuiper-beltApakah pluto benar-benar sebuah planet? Ini bukanlah pertanyaan yang mengada-ada. Memang sejak berpuluh-puluh tahun, baik para astronom maupun masyarakat awam beranggapan bahwa Pluto adalah planet ke-9 dalam tata surya kita. Namun demikian, pandangan tersebut perlahan-lahan mulai diragukan ketika para astronom mulai menyadari keberadaan benda-benda angkasa yang kemudian dinamai sebagai objek Kuiper Belt.

Keberadaan planet sebagai anggota utama tata surya sebenarnya telah lama diketahui oleh manusia. Sejak jaman kuno, para astronom telah menyadari bahwa disamping bintang-bintang yang beredar di langit malam dalam formasi yang relatif tetap, ada pula titik cahaya yang berpindah-pindah diantara formasi bintang-bintang tersebut. Titik cahaya itu kemudian dinamai planet, berasal dari bahasa Yunani planetai yang artinya pengembara. Semula, planet-planet yang dikenal hanyalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Maklum, planet-planet diluar orbit Saturnus tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu teleskop yang saat itu masih belum lagi ditemukan. Penemuan teleskop oleh Galileo pada tahun 1609 membuka cakrawala baru bagi para ahli astronomi masa itu.

Kini mereka mengetahui fakta-fakta bahwa permukaan bulan dipenuhi oleh kawah, bahwa Saturnus ternyata memiliki sebentuk cincin di sekelilingnya, dan bahwa planet-planet–sebagaimana halnya Bumi kita–mengorbit mengelilingi Matahari sebagai pusat tata surya. Planet-Planet “Baru” Adalah Wiliam Herschel, seorang astronom berkebangsaan Inggris yang membuka jalan untuk penemuan anggota “baru” di tata surya ketika pada tahun 1781 ia berhasil menemukan Planet Uranus. Tahun 1789 ia juga menemukan dua satelit alam (bulan) terbesar Uranus: Titania dan Oberon. Selain Uranus dan kedua bulan utamanya, Herschel juga tercatat telah mengkatalogkan lebih dari 800 bintang ganda dan 2500 nebula. Ditemukannya Uranus kemudian disusul dengan penemuan planet Neptunus pada 23 September 1846 oleh Johann Gotfried Galle dari Observatorium Berlin bersama dengan Louis d’Arrest, seorang mahasiswa Astronomi. Neptunus ditemukan berdasarkan prediksi matematis yang dibuat oleh Urbain Jean Joseph Le Verrier. Walaupun Galle merupakan orang pertama yang berhasil mengobservasi Neptunus secara visual, namun yang dipandang sebagai penemu sebenarnya adalah John Couch Adams (yang membuat kalkulasi awal) dan Le Verrier.

Berikutnya, penemuan ini memicu pencarian anggota baru lainnya dari tata surya. Adalah Percival Lowell, seorang astronom berkebangsaan Amerika Serikat yang memperhitungkan kemungkinan adanya anggota ke-9 dari tata surya kita. Lowell juga dikenal sebagai astronom yang getol meneliti planet Mars. Dari pengamatan melalui observatoriumnya di Arizona, ia meyakini keberadaan kanal-kanal di permukaan Mars dimana dari sana ia berkesimpulan bahwa mars dihuni oleh mahluk berperadaban. Namun demikian, pencarian terhadap anggota baru tata surya yang dipeloporinya tidak membawa hasil hingga kematiannya pada 1916.

Sepeninggal Lowell, usahanya kemudian diteruskan oleh Clyde W.Tombaugh yang akhirnya menemukan apa yang dicari pada 19 Februari 1930. Planet baru tersebut kemudian dinamai Pluto, diambil dari nama Dewa kematian bangsa Yunani Kuno. Yang tidak banyak diketahui orang ialah bahwa dua huruf awal dari nama planet tersebut (PL) sesungguhnya merupakan penghormatan bagi Percival Lowell. Anggota Kesepuluh? Berpuluh-puluh tahun sejak penemuannya, Pluto dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya, melengkapi delapan planet yang telah ditemukan sebelumnya. Namun dibalik itu, spekulasi akan keberadaan anggota kesepuluh juga mulai berkembang. Setelah simpang-siur kisah seputar keberadaan planet–yang biasa disebut sebagai Planet X–tersebut beredar, barulah pada tahun 1992 para astronom mulai menyadari bahwa selepas orbit Neptunus terdapat sebuah daerah orbit dimana didapati sekitar 70.000 objek kecil, beku berbalut es yang bergerak lambat mengorbit matahari. Sekumpulan objek yang mengorbit pada daerah yang kemudian dinamai sebagai Sabuk Kuiper (Kuiper Belt) itu kemudian diberi sebutan sebagai Kuiper Belt Object (juga dikenal sebagai Trans Neptunian Object), mengambil nama seorang astronom Belanda-Amerika, Gerard P Kuiper yang pada tahun 1951 mempelopori gagasan bahwa tata surya kita memiliki anggota yang letaknya sangat jauh. Penemuan akan keberadaan objek Kuiper Belt akhirnya malahan membuat status Pluto sebagai sebuah planet mulai diragukan. Ini adalah kenyataan yang ironis mengingat, pencarian planet kesepuluh dari sistem tata surya kita malahan membuat daftar yang sudah ada terancam berkurang satu. Status Pluto kemudian menjadi ajang perdebatan diantara para astronom, apakah tetap digolongkan sebagai planet ataukah objek Kuiper Belt.

Diantara semua planet anggota tata surya, Pluto memang memilki beberapa ciri yang ganjil. Selain ukurannya yang tergolong “mini” dibandingkan planet-planet lainnya, garis edarnya yang sangat lonjong juga eksentrik, dimana dalam periode tertentu garis edar Pluto memotong orbit Neptunus menjadikan Neptunus sebagai planet terluar dari tata surya. Pluto juga diketahui memiliki massa yang sangat kecil, kurang lebih hanya 1/400 massa planet Bumi. Ia juga diketahui memiliki sebuah satelit alam—yang kemudian dinamai Charon—dengan ukuran sekitar setengah kali ukurannya sendiri. Tidak heran, beberapa astronom lebih suka menggolongkan Pluto sebagai Objek Kuiper Belt yang terbesar diantara objek-objek sejenisnya. Walaupun masih menyisakan ketidakpuasan, “krisis identitas” yang melanda Pluto akhirnya mereda ketika pada bulan Februari 1999, The International Astronomical Union (IAU) menetapkan bahwa Pluto tetap digolongkan sebagai sebuah planet. Kembali kepada Objek Kuiper Belt, objek ini ternyata menyimpan banyak hal yang menarik perhatian para astronom untuk menelitinya. Pada Desember 2000, saat meneliti objek dengan nomor katalog 1998 WW31, astronom Christian Veillet dan dua koleganya menemukan bahwa objek yang ditemukan dua tahun sebelumnya ini memiliki pasangan yang saling mengedari (binary object).

Hasil pengamatan menggunakan teleskop Canada-France-Hawaii yang berdiameter 3.6 meter di Hawaii ini telah dipublikasikan akhir April 2001 dalam buletin IAU Circular 7610. Sementara itu, sebuah objek Kuiper Belt yang dinamai Varuna yang ditemukan pada November 2000 kini diketahui memiliki ukuran yang cukup besar. Dibandingkan dengan diameter Pluto (2.200 km) dan Charon (1.200 km), Diameter Varuna yang sekitar 900 km itu cukup memperkecil “gap” dalam hal ukuran antara Pluto dengan objek-objek Kuiper Belt yang sudah ditemukan sebelumnya yang rata-rata berdiameter hanya sekitar 600 km.

Hal-hal menarik lain berkaitan dengan Kuiper Belt Object diharapkan makin tersingkap saat fasilitas teleskop infra merah yang direncanakan akan diluncurkan oleh pesawat ulang alik pada tahun 2002 mulai beroperasi. Instrumen ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai ukuran objek-objek anggota tata surya yang letaknya terbilang jauh.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: